Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Bangun Monumen Sumpah Pemuda ( Tasyakuran Sumpah Pemuda ke-84)

Atas Berkat Rohmat Alloh Yang Maha Kuasa
 
Hari Sumpah Pemuda, hari yang sangat bersejarah sebagai tonggak kebangkitan nasional yang melahirkan kemerdekaan bangsa Indonesia, pada peringatan ke-84 tahun 2012, ditasyakuri secara besar-besaran oleh Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (Opshid) se-Indonesia dengan cara membangun monumen-monumen Sumpah Pemuda yang cukup fenomenal di berbagai daerah.
Proses pembangunan monumen ini diperkirakan melibatkan 1000 lebih pemuda-pemudi dari 50 kabupaten/kota di Indonesia. Dari segenap panitia, peserta pelaksana pembangunan, juru masak, arsitek hingga seniman. Dijadwalkan pada 15 September 2012  akan bersama-sama memulai pembangunan dengan peletakan batu pertama secara resmi dan terpadu. Ditargetkan dalam tempo 40 hari, dengan perjuangan yang total, tepat pada 28 Oktober 2012 monumen Sumpah Pemuda sudah berdiri seluruhnya.
Model bangunan monumen cukup unik, tapi sarat akan makna dan manfaat, tidak seperti umumnya monumen yang kita kenal selama ini. Bukan berbentuk patung, menara, gapuro, teks sejarah atau simbol-simbol lainnya yang hanya dipajang saja. Monunen Sumpah Pemuda ini didesain berwujud Rumah Layak Huni Shiddiqiyyah (RLHS). Dengan luas rata-rata 5x7 meter, tinggi 4 s/d 7 meter, berdinding beton bertulang, berlantai keramik, dihiasi ornamen-ornamen yang artistik, dilengkapi dengan tiga kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga, dapur dan kamar mandi.  Maka terwujudlah sebuah monumen yang tak hanya  sedap dipandang mata, tapi juga berfungsi sebagai tempat tinggal yang dipersembahkan bagi saudara-saudara dhu'afa (rakyat miskin).
Monumen Sumpah Pemuda seperti ini tentu cukup langka, apalagi akan dibangun hingga ratusan jumlahnya dan tersebar di berbagai penjuru Nusantara. Biaya pembangunan monumen ini mencapai lebih dari 1 (satu) milyar, murni dari dan oleh Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah, dengan dana, tangan dan keringat sendiri tanpa meminta bantuan dari pihak manapun, termasuk pemerintah. Kini, proses pembangunannya sudah selesai pada tahap penggalian pondasi. Berbeda dengan yang berlaku pada umumnya, jika kita sering melihat di media massa pada peringatan Hari Sumpah Pemuda, berbagai organisasi kepemudaan ramai-ramai menggelar demontrasi, tuntutan demi tuntutan, atau hanya sekedar peringatan formalitas saja, maka Organisasi Pemuda Shididiqiyyah se-Indonesia justru sibuk mengabdi kepada ibu pertiwi. Sejatinya pembangunan monumen Sumpah Pemuda ini sudah diawali sejak tahun 2010 lalu. Dan semua proses berjalan atas petunjuk Almukarrom Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah selaku Guru Besar Opshid. Kini sudah berdiri sejumlah 71 monumen yang tersebar di 30 kabupaten/kota se-Indonesia. Namun, khusus pada tahun 2012  ini dibangun secara terpusat di Kota Jombang, sejumlah 30 monumen yang  tersebar di 12 kecamatan, di antaranya Ploso, Tembelang, Peterongan, Diwek, Jombang, Jogoroto, Megaluh, Gudo, Mojowarno, Sumobito. Bila dijumlahkan sampai dengan tahun 2012 ini, jumlahnya sudah mencapai 101 monumen Sumpah Pemuda.
Jika setiap tahun pada hari Sumpah Pemuda Opshid berhasil membangun puluhan monumen Sumpah Pemuda yang berupa Rumah Layak Huni Shiddiqiyyah (RLHS), maka puluhan tahun kemudian pasti akan berdiri ribuan monumen Sumpah Pemuda. Hal ini tentu akan menjadi kemanfaatan yang lestari sekaligus kenangan abadi.  Inilah wujud syukur atas cinta tanah air Indonesia yang utuh dari Organisasi Pemuda Shididiqiyyah dalam  konsep manunggalnya keimanan dan kemanusiaan di Hari Sumpah Pemuda.