Pembangunan Rumah Layak Huni Shiddiqiyyah, Bukan dari Parpol, Bukan Program Pemerintah Selengkapnya

Program pembangunan Rumah Layak Huni Shiddiqiyyah (RLHS) dilaksanakan dalam rangkat mentasyakuri Sumpah Pemuda. Ratusan peserta pelaksana pembangunan RLHS bekerja siang malam untuk menyelesaikan rumah yang akan dipersembahkan  dan menjadi hak para saudara dhuafa’ yang tersebar di kabupaten Jombang.  Progam yang digagas oleh Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) tersebut merupakan bentuk rasa syukur terhadap peristiwa besar Sumpah Pemuda yang lazim diperingati tiap tanggal 28 Oktober.
Pada Tahun 2012, adalah tahun ketiga bagi OPSHID mensyukuri peringatan Sumpah Pemuda 1928 dalam bentuk pembangunan rumah layak  huni. Sejak tahun 2010 OPSHID secara rutin telah membangun  puluhan rumah megah di tiap DPD (Dewan Pimpinan Daerah)  yang berjumlah 52 DPD tersebar di seluruh penjuru Nusantara. Tahun 2012, pembangunan RLHS dipusatkan di Kabupaten Jombang tersebar di 12 kecamatan.
Terkait masalah dana, bendahara panitia RLHS menjelaskan, bahwa tiap rumah yang dibangun bernilai sekitar 28 jutaan. “ Tapi angka itu hanya terhitung biaya material bangunan saja, tidak termasuk biaya pekerja karena dikerjakan anggota OPSHID sendiri, belum  akomodasinya juga“ demikian ungkap Mu’arofah, bendahara Panitia Tasyakuran Hari Sumpah Pemuda ke-84 ketika dihubungi di sekretariat panitia di hotel Yusro Bangunan RLHS yang ditargetkan 36 hari selesai itu memang dikerjakan sendiri oleh anggota OPSHID didukung warga Shiddiqiyyah lainnya. Uniknya, seluruh peserta pelaksana pembangunan RLHS tersebut bekerja tanpa mendapat upah kerja, mereka secara ikhlas datang ke kabupaten Jombang dari daerah masing-masing di seluruh Indonesia. 
Tidak hanya itu, mereka juga mengumpulkan iuran dari DPD masing-masing sebagai sumber dana pembangunan RLHS ini. “Dana pembangunan RLHS  murni dari anggota OPSHID dan warga Shiddiqiyyah, tidak ada bantuan dari parpol manapun atau bahkan pemerintah. Dari target awal 1 miliar, sekarang alhamdulillah sudah terkumpul 80 persen“, jelas Muarofah. “Peribahasa mengatakan : Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, itulah yang sedang kami lakukan saat ini, kami menerima berapapun dana dari anggota OPSHID dengan tangan terbuka, bahkan hingga recehan sekalipun, yang penting bukan jumlahnya tapi kesadaran dan keihlasan mereka” sambungnya, “ Bahkan ada salah satu anggota OPSHID dari Solo yang rela menggadaikan motor kesayangannya demi bisa mensukseskan acara ini” lanjutnya haru. Masih menurut Mu’arofah, apa yang dilakukan pemuda-pemudi OPSHID ini karena mereka merasa punya tanggung jawab kepada para saudara dhuafa’ yang sampai saat ini belum bisa menikmati rumah yang layak. Dan itu sebagai realisasi dari Semboyan OPSHID yaitu S3 (Santunan, Shillaturrohmi, Shodaqoh). Program pembangunan RLHS ini tidak akan berhenti dilaksanakan OPSHID sebelum seluruh rakyat Indonesia bisa menikmati hidup yang nyaman, aman dan tentram di negeri Indonesia yang terkenal negeri yang jaya, kaya dan makmur ini.