Terkungkung di Kaki Gunung

Secara demografis berkembangnya populasi di kawasan terpencil tak bisa dihindari. Rakyat yang mendiami dataran tinggi, dataran rendah/rawa, lereng gunung, pesisir pantai atau laut, tak bisa berbuat lebih sebagai komunitas tertinggal. Berdasarkan hasil Pemutakhiran data Komunitas Adat Terpencil yang dilansir Mensos, secara nasional masyarakat di kawasan terpencil sebanyak 229,479 KK tersebar di 2.658 lokasi.

Mereka tersebar di 246 Kabupaten, 852 Kecamatan, 2.037 Desa dan 2.650 lokasi. Data kuantitatif tersebut menunjukkan bahwa tingkat permasalahan kemiskinan di Indonesia masih 'merah' tapi tak berarti sukar dientas. Organisasi Pemuda Shid- diqiyyah (Opshid) dalam Program Jelajah Desa ke-VI me- nyambangi saudara-saudara yang hidup di lereng gunung, terpinggir di daerah Kabupaten Malang. Tepatnya di Lereng Gunung Arjuno dan Lereng Gunung Semeru. Minggu-Senin 15-16 Muharrom 1438H (16-17/10/16). Jelajah Desa ke-VI ini sekaligus dalam rangka Mensyukuri Hari Sumpah Pemuda ke-88, diikuti sekitar 600 jiwa-jiwa Opshid. Tak hanya datang bershillaturrahmi, menyantuni serta menyampaikan pasar murah dan pelayanan kesehatan gratis tapi Jelajah Desa juga bermaksud membentuk jaringan data keberadaan fakir miskin di kawasan terpencil termasuk di kaki gunung ini. Selanjutnya, Jelajah Desa Extra diprogramkan untuk memberikan pelayanan lanjutan seperti pembangunan fasilitas umum bahkan apartemen untuk kaum papa yang tidak memiliki tanah. Contoh nyata adalah warga penduduk lereng Gunung Arjuno tepatnya Dsn. Sumberwangi, Ds. Borogragal, Dsn. Sumbersari, Ds. Tawang Argo, Dsn. Tulung Rejo, Ds. Bocek, Kecamatan Karang Ploso dan penduduk di lereng gunung Semeru; Dsn. Parang-parang dan Dsn. Ringin Anom, Ds. Taman Satriyan, Kec. Tirtoyudo, juga Dsn. Magersari, Ds. Sumber Putih, Kec. Wajak. Semua penduduk di sana tak memiliki tanah. Mereka berdomisili di tanah milik perhutani, tidak ada hak kepemilikan, hak jual, hanya hak kelola. Hasilnya, masih dibagi-bagi. Sudah terpangkas bagi hasil, pekerjaan penduduk setempat juga bergantung pada musim. Karena jenis tanah di lereng gunung ini termasuk kering, maka selain musim hujan ladang tak bisa ditanami.

Mata pencaharian pun berganti tapi masih juga di lahan perhutani. “Kalau hujan bisa nanam, kalau nggak hujan ya nggak bisa, kalau musim kemarau turun nyari kerjaan di bawah. Kerjanya di sini di perhutani. Ambil getah pohon,” kata Perangkat Desa, Sukri. Rumat warga Dsn. Tulung Rejo juga meng- akuinya. “Karena tidak memiliki tanah sendiri jadi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari ya nyadap pinus di tanah perhutani,” kata kakek berusia 60 tahun ini. Sunarto warga Dusun Sumberwangi juga menjadi pe- sanggem, pekerja perhutani dengan menanam kayu-kayu perhutani, buruh pengumpul getah kayu perhutani, me- ngangkut kayu, atau membuat jalan dan pekerjaan lain- nya yang dibutuhkan perhutani. “Ya mata pencahariannya rata-rata dari cari getah itu, itupun tidak bisa setiap hari,” kata Sunarto. Cocok tanam yang dilakukan biasanya harus terhenti ketika tumbuhan perhutani mulai meninggi dan menghalangi sinar matahari. Kondisi pas-pasan ini tak membuat kehidupan per- ekonomian mereka berangsur membaik. Karena itu Sunarto mengatakan pendidikan yang sebenarnya sangat dibutuhkan bagi anak harus terhenti. “Banyak yang sampai SD saja tidak selesai, gak ada biaya. Ya ibaratnya kerja buat makan aja,” katanya Hal ini diperparah dengan kondisi jalan yang buruk.

Tiga dusun yang dikunjungi saat Jelajah Desa hari per- tama di lereng Arjuno memang kawasan tertinggi di- antara 9 desa di sana. Pembangunan jalan lagi-lagi kurang digubris. Masih menurut Sukri, pengajuan pem- bangunan jalan sebenarnya sudah dilakukan, tapi sampai saat ini belum diterima. “Pengajuan sudah masuk dari 2011 tapi belum ada tindak lanjut ke pemerintahan kabupaten. Waktu mau mencalonkan bupati ya ke sini dan sudah diajukan tapi belum diterima,” ungkapnya. Tak hanya itu, pengajuan pembangunan jalan juga harus menunggu kebijakan perhutani. Masalah klasik, tidak ada akses masuk yang layak, ke- butuhan pendidikan, pasar dan balai pengobatan tidak terpenuhi maksimal. Dusun berpenduduk 34 KK itu membutuhkan fasilitas berobat lantaran kebanyakan menurut Sukri tidak memiliki kendaraan. “Untuk berobat sangat jauh, biaya ojek saja Rp 30 ribu belum biaya ber- obatnya”.

Karena itu kedatangan Opshid Jelajah Desa diakuinya sangat membantu. Tarmi, warga dusun setempat juga mengakuinya. “Senang sekali ada ini (Jelajah Desa-red), semuanya bisa keturutan, saya dari dulu sudah ingin punya kacamata,” ungkapnya gembira. Seperti biasa, layanan kesehatan secara medis dan non medis berteknologi resonansi metafakta, juga disertai pemeriksaan mata dan pemberian kacamata gratis. Kata Hallaj, salah seorang refaksionis pada Jelajah Desa ke-VI ini sejumlah 53 kacamata telah tersampaikan. Hal tak jauh beda juga dirasakan warga dusun Megar- sari, lereng gunung Semeru. Hanya mengantongi hak guna, warga pun dituntut sadar hukum dan mengikuti aturan perhutani. Walaupun sering dalam kondisi sulit, mereka harus tetap berjuang untuk memenuhi kebutuh- an hidup tak peduli sekaras apa. Menyaksikan langsung kondisi rakyat pinggiran seperti ini, Mas Bechi menghendaki agar DPD Opshid Malang mencari tanah di radius 1-2 Km dari Jaami'atul Mudzakkirin Poncokusumo, Wates, Malang. Tanah ini nantinya direncanakan akan dibanguni apartemen dan mal Alastu, sehingga JM akan berfungsi sebagai pelaya- nan keimanan dan apartemen, mal Alastu akan berfungsi sebagai pelayanan kemanusiaan. Karena di apartemen itu fakir miskin yang tak punya tanah dan rumah dipersilahkan menempatinya secara cuma-cuma.